23 February 2026, 09:11

Tadabbur Alam dan Penguatan Sinergi: Catatan Rihlah Guru Sekolah Buahati School of Character, Denpasar

Rihlah merupakan salah satu sarana pembinaan karakter yang esensial, tidak terkecuali bagi seorang guru. Sebagai profesi yang memikul tanggung jawab besar dalam mendidik dan menyiapkan generasi bangsa serta generasi muslim yang unggul, guru kerap dihadapkan pada rutinitas yang menguras energi. Di tengah tugas berat itulah, seorang guru perlu melakukan pengisian ulang (recharge) energi agar tetap stabil dalam mengalirkan energi positif kepada para siswa.

Rihlah Guru dan Staf Sekolah Buahati School of Character, Denpasar, Bali, yang dilaksanakan pada 14–16 Februari 2026 ke Banyuwangi, Jawa Timur, memberikan ruang bagi para guru untuk melakukan refleksi, menikmati keindahan alam, serta mentadaburi kebesaran Allah Sang Maha Pencipta. Lebih dari sekadar perjalanan fisik, kegiatan ini menjadi momentum untuk melatih kesabaran, mengasah keberanian, serta memupuk kebahagiaan bersama.

Eksplorasi Ujung Timur Jawa
Perjalanan dimulai dengan menggunakan bus umum untuk memupuk rasa kebersamaan sejak awal. Setelah menyeberangi Selat Bali, rombongan dijemput oleh armada travel untuk mengelilingi kota berjuluk The Sunrise of Java. Sebelum menuju destinasi utama, kami menyempatkan diri mencicipi kuliner khas Nasi Tempong Mbok Wah, lalu berlanjut ke De Djawatan yang ikonik dengan jajaran pohon trembesi berusia ratusan tahun.

Menjelang gelap, perjalanan berlanjut menuju Pinus Camp 2 Songgon. Di sana, kami bermalam di dalam tenda di bawah naungan pohon pinus, diiringi simfoni suara jangkrik dan aliran Sungai Badeng. Suasana malam yang sejuk menjadi momentum bagi kami untuk menikmati hidangan panggang (barbeque) bersama, ditemani minuman markisa dan buah naga segar yang merupakan komoditas lokal setempat.

Adrenalin dan Kekompakan
Keesokan paginya, dengan menaiki mobil bak terbuka, kami menuju titik awal rafting di Sungai Badeng, kawasan Telunjuk Raung. Sepanjang 3 hingga 4 km aliran sungai, kekompakan dan keberanian kami diuji. Sebanyak 18 dari 20 peserta, baik dewasa maupun anak-anak, memenuhi perahu karet dengan teriakan penuh keseruan yang memecah kesunyian sungai.

Tak berhenti di situ, petualangan berlanjut ke selatan Banyuwangi. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, kami tiba di Pantai Mustika. Tantangan berikutnya adalah menyeberangi lautan menggunakan kapal nelayan menuju Jungle Island. Deburan ombak yang menerjang kapal menjadi pengalaman yang mendebarkan sekaligus berkesan, memberikan kami gambaran nyata mengenai perjuangan para nelayan saat melaut.

Menyentuh Budaya dan Sisi Maritim
Di Jungle Island, fisik kami kembali diuji dengan mendaki bukit sebagai latihan kardio. Di puncak, kami disambut oleh replika rumah adat dan nuansa budaya Papua, lengkap dengan pementasan kesenian tradisional Banyuwangi. Pengalaman ini memberikan perspektif baru tentang kekayaan budaya Nusantara.

Perjalanan hari kedua ditutup dengan kehangatan menginap di kediaman salah satu guru di Muncar. Esok paginya, keceriaan berlanjut saat kami berkeliling menggunakan kereta wisata atau ‘odong-odong’ menuju Pelabuhan Muncar, yang merupakan salah satu pelabuhan ikan tradisional terbesar di Indonesia. Kami menyaksikan pemandangan megah ribuan kapal nelayan yang berderet rapi di sepanjang dermaga, sebelum melanjutkan eksplorasi ke Pantai Gumuk Kantong. Setelah itu, kami beristirahat sejenak untuk bersiap menempuh perjalanan pulang kembali ke Denpasar.

Esensi Sebuah Perjalanan
Inilah definisi rihlah yang sesungguhnya. Meski belum semua sudut Banyuwangi tersinggahi, kebersamaan, kekompakan, dan kebahagiaan yang tercipta telah menjadi recharge yang efektif bagi para guru. Perjalanan ini memang melelahkan secara fisik, namun sangat menyenangkan bagi jiwa.

Sesuai dengan tema yang diusung, Teacher’s Recharge: Sharing Happiness, Strengthening Synergy, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan energi positif bagi profesi guru dan kemajuan sekolah melalui sinergi yang makin kuat. Rihlah bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan momentum tadabur dan tafakur alam untuk melihat kebesaran ciptaan Allah dalam semesta dan kehidupan.

[Oleh Salapudin Nasya]

Topik Berita :